Sebuah kampanye anti penyalahgunaan narkoba. Kampanye ini adalah bagian dari komitmen Yayasan GRAPIKS dalam menyikapi, hasil penjangkauan yang dilakukan selama lebih dari 17 tahun yang lalu hingga saat ini serta berdasarkan kondisi lingkungan sekitar Narkoba dan permasalahannya.
Maraknya penyalahguna di wilayah Bandung Raya meningkat, dari “pemain lama” hingga “new comer” berbagai zat yang beredar dan ragam cara penggunaannya. Penyalahgunaan seakan tidak terbendung lagi dan dikhawatirkan akan mendatangkan dampak buruk yang lain.

Dari fenomena diatas kami berharap agar masyarakat bisa mendapatkan pembelajaran. Tidak ada lagi penyalahguna narkoba, Tidak ada lagi pecandu yang kehilangan kendali atas dirinya sendiri, sehingga stigma dan diskriminasi bagi para pecandu bisa berkurang. Semua kembali ke titik 0, makanya kami namakan Back to Zero.

Pentingnya pengemasan untuk menyampaikan informasi kepada masyarakat menjadi hal utama agar masyarakat bisa menerima informasi tersebut dengan mudah. Kedua, memberikan gambaran terkait kecanduan dan dampaknya (perjalanan sejauh itu membutuhkan fisik dan mental yang stabil, tidak mudah dilakukan begitu bagi pecandu yang pulih bahkan mungkintidak terpikirkan untuk melakukannya). Sehingga, yang diharapkan tidak ada lagi masyarakat yang mau mencoba narkoba. Terakhir, memberikan dukungan terhadap para pecandu agar mereka dapat tetap menjaga kepulihannya.

Gagasan Back to Zero muncul dari kondisi dan potensi yang ada. Kami berpikir bagaimana memberikan kontribusi terhadap fenomena yang ada dengan sesuatu yang kami miliki. Motor-motor yang tergolong tua, bengkel Yayasan (GRAPIKS Concept) sebagai sarana vokasional rehabilitasi yang dipimpin temen kami seorang pecandu yang telah pulih serta orang-orang baik yang ada di lingkungan Yayasan GRAPIKS berada, termasuk CV. Lohjinawi. Pada dasarnya kami memang memiliki kesukaan yang sama dengan motor dan perjalanan. Dari modal inilah kami berharap agar fenomena diatas menjadi pembelajaran bagi semua pihak. Dari segala keterbatasan kami, kami ingin menunjukkan bahwa pecandu mampu berdaya. Motor tua yang terlibat melalui sentuhan tangan pecandu mampu menjadikannya kendaraan yang dapat ditunggangi dengan jarak jauh. Pecandu bisa berprestasi jika mendapat dorongan yang kuat dari lingkungannya.

Part 1 : Bandung – 0 KM Sabang.
Dalam proses penentuan tujuan agar sejalan dengan nama gerakan kampanye, maka diambillah salahsatu destinasi yang paling dicari para biker nusantara, titik 0 KM Sabang, dengan jarak tempuh kurang lebih 5200 KM. Kami harus melakukan persiapan secara matang mengingat perjalanan jauh yang belum pernah kami tempuh.

Persiapan 7 motor yang akan kami gunakan menjadi perhatian utama yang menjadi garapan bengkel vokasional kami. Kami sempat melakukan simulasi perjalanan sejauh 600 km di area Jawa Barat untuk memastikan kendaraan kami siap tempur menuju KM 0 Sabang. Beberapa perbaikan kami lakukan sepulang dari sana. Untuk referensi jalur perjalanan, kami cari melalui penelusuran internet dan kontak dari beberapa teman yang merekomendasikan. Sehingga, akhirnya Kami memilih berangkat melalui Jalur Lintas Timur dan kembali melalui Jalur Lintas Barat, dengan begitu perjalanan kami melingkari pulau Sumatera.

Tim Back to Zero part 1 berangkat 4 hari setelah Hari Idul Fitri tahun 2018. Tepatnya tanggal 18 Juni 2018 dan berharap tanggal 26 Juni (Tepat pada peringatan Hari Anti Narkotika Internasional) kami bisa sampai di KM 0 Sabang. (karena melihat di artikel, rata-rata waktu tempuh perjalanan hanya 1 minggu, itupun dari Jakarta). Berbagai komunitas memberikan supportnya pada hari pemberangkatan kami di Sekretariat Yayasan GRAPIKS, Cileunyi. Ada BNNP Jawa Barat, Kang Soni yang waktu itu masih bertugas di Dispora Kota Bandung, dan komunitas yang lainnya yang tidak bisa kami sebut satu per satu. Puluhan motor mengantarkan keberangkatan kami sampai Kota Baru, Padalarang.

Tim melakukan misinya dengan melakukan sosialisasi ke semua kalangan. Masyarakat umum, aparatur negara dan semua orang yang kami temui di perjalanan. Anak motor pun menjadi sasaran kami, merekalah yang banyak membantu kami, mulai dari pengkondisian tempat kami menginap, hingga hidangan makan malam dan sarapan secara gratis, kami sangat bersyukur bisa bertemu dan mengenal mereka. Sisanya, Pom bensin dan masjid menjadi tempat kami untuk beristirahat malam. Tidak hanya itu beberapa tempat rehabilitasi juga kami kunjungi untuk melakukan diskusi dan sharing terkait penanggulangan napza. Ada YAKITA Aceh, Yayasan KIPAS Bengkulu termasuk kunjungan ke BNNP Aceh.

( Tim melakukan sosialisasi kegiatan kepada aparatur negara yang sedang bertugas dalam pengamanan arus mudik lebaran 2018)[/caption]Tiba di titik 0 KM Sabang pada tanggal 02 Juli 2018 dengan formasi kurang 1 orang dan motornya, karena ada halangan yang membuat dia harus kembali ke Bandung setelah sampai di pertengahan antara Palembang – Jambi.

Dengan kondisi motor yang tidak muda lagi. Apa yang terjadi pada perjalanan ada di luar dugaan kami. Sebelum sampai Padalarang, motor yang baru kami rakit dan kebetulan tidak sempat ikut dalam kegiatan simulasi mengalami masalah. Kopling hidrolik yang dimodifikasi tidak berfungsi dengan baik, sehingga di Padalarang kami melakukan penggantian system kopling menjadi kabel kembali. Di Kota Serang kami harus tinggal satu hari satu malam pada sebuah masjid karena 2 motor memerlukan penggantian kampas kopling (Di masjid ini kami berdebat karena terlalu lama singgah dengan pengurus Masjid, mungkin kami dianggap gerombolan penjahat).

Masalah lain yang timbul dari kendaraan kami sangat variatif. Jari-jari roda belakang yang rampung akibat keganasan jalur timur, Mesti turun mesin akibat kamprat loncat dari giginya pas mau masuk Medan di area kebun sawit, Mesin bocor di daerah Sidikalang yang cukup dingin (Jalur lintas Barat, arah pulang), Motor mekanik kami yang sangat tak berkendala akhirnya mengalami macet pada piston di perbatasan Bengkulu-Lampung sampai akhirnya dipaksakan sampai ke Bandung.

Selain masalah pada motor, 2 orang dari kami sempat mengalami kecelakaan. Jalanan licin di Dolok Sanggul membuat teman kami menghantam truk yang untungnya berjalan sangat pelan, beruntung tidak ada yang parah, teman kami masih bisa melanjutkan perjalanan walaupun sedikit cedera dan motornya pun hanya mengalami kerusakan kecil. Kecelakaan lainnya di daerah perbatasan Aceh – Sumatera Barat, di jalur yang berkelok teman kami tidak bisa mengendalikan kendaraannya dan masuk parit, beruntungnya kecepatannya pelan dan tidak menimbulkan permasalahan yang berarti.

Pada tanggal 12 Juli kami tiba kembali di Bandung tanpa kekurangan satu apapun. (eehh, bohong ketang kita hilang 2 tenda yang diikat di motor karena terjatuh) Terhitung 27 hari kami lalui, menempuh jarak yang panjang berharap suara kami terdengar seantero negeri. Perjalanan panjang membuat kami belajar untuk selalu ber-istiqomah dalam menggeluti niat dan selalu memguatkan tekad agar terus selalu menyuarakan anti penyalahgunaan napza dan terus merangkul para pecandu pada titik 0.

Penulis : Rosan Januar Ishak, S.IP